Yang Tak Banyak Bicara

Manusia tercipta dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Sebagian manusia terlahir dengan kemampuan seni yang membuncah, sebagian lain hanya mampu memecahkan masalah matematis yang teoritis. Sebagian manusia mempunyai kemampuan spontanitas dalam melakukan segala hal, di sisi lain sebagian manusia harus merinci hal-hal tersebut dengan penuh perencanaan. Sebagian manusia ditakdirkan untuk tidak banyak bicara, dan sebagian yang lain memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbicara. Sebagian manusia merasa lebih nyaman menuliskan apa yang dipikirkannya, dan sebagian lain mengatakannya secara langsung untuk mengekspresikan apa yang dipikirkannya. Namun tak jarang, seseorang memiliki dua kemampuan sekaligus. Yap, dalam hal ini setiap dari kita harus mengenali kecenderungan dan potensi diri. Who am I? Dan kemudian yang perlu kita lakukan adalah mengasah setiap kecenderungan itu untuk melejitkan potensi.

Dia yang tak banyak bicara, pada umumnya memilki kemampuan bicara spontan yang kurang rapi, namun jika apa yang dibicarakan telah ia siapkan, hal tersebut tak berlaku lagi. Dia yang tak banyak bicara, lebih suka mendengarkan dibandingkan menceritakan, dan hanya memberikan tanggapan singkat bahkan tak mengeluarkan pendapatnya jika tak diminta dan sekitanya tak dibutuhkan. Hal inilah yang membuatnya tampak sedikit misterius, karena tak banyak orang tahu siapa dan bagaimana dirinya.

Dia yang tak banyak bicara, umumnya nyaman menuliskan segala hal dalam pikirannya. Memiliki bahasa tulisan yang rapi dan selalu memperhatikan ejaan yang benar. Dia yang tak banyak bicara, dapat mengenali sedikit sifat seseorang dari tulisan yang dibacanya. Melankolis, koleris.. Dan tak jarang menjadi puitis. Juga, tentu saja sensitif terhadap tulisan-tulisan seseorang lain yang ia baca, baik kesesuaian kalimat atau ejaan, karena baginya kesalahan-kesalahan dalam penulisan akan berakibat fatal. Tentu saja fatal, karena bahasa tulisan tak memperlihatkan ekspresi dan mimik seseorang, dan dia yag tak banyak bicara hanya mengira dan menebak apa yang sebenarnya dikatakan.  Ya, dia sensitif terhadap tulisan-tulisan itu. Sangat sensitif.

Setiap anak adalah jenius. Tapi jika anda menilai ikan dari kemampannya memanjat pohon, seumur hidup dia akan menganggap dirinya bodoh. (Albert Einstein)

Ada saatnya dalam hidupmu, kau ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia.. (Bung Karno)

Bagaimanapun, dua quotes tersebut berhubungan, meski kau bilang ‘tidak’, aku mengatakan ‘ya’

Advertisements

Lonely Homey

Jadi, sudah sekitar sepuluh hari bungsu diberi kesempatan oleh bapak ibu untuk mengatur rumah dan menjalankan perannya dalam masyarakat. Sebut saja begitu. Ya begitulah. Bungsu tinggal sendiri di rumah untuk waktu yang belum ditetapkan. Bapak ibu ke Jogja, dengan setidaknya tiga tujuan: Takziyah almarhumah budhe, nengok cucu (Haura Nazhifa, adeknya Yofi) yang baru menyapa dunia pada Romadhon tahun ini, sekaligus terapi.

Sedikit tentang budhe Semi. Beliau.. jika hanya sekilas melihat dan kenal, beliau terlihat judes, bersuara keras dengan nada tinggi. Tapi, itulah yang membuat aku selalu ingin bertemu beliau. Aku kangen beliau. Beliau sosok ibu yang hebat, terbukti tiga anaknya kini telah menjadi orang hebat di daerah yang jauh dari tempat kelahiran. Beliau istri yang baik dan sholihah, selalu mengingatkan pakdhe jika lupa akan pengajiian rutin dan selalu mengingatkan beliau untuk selalu solat berjama’ah di masjid. Pasangan yang romantis, begitu aku melihatnya. Beliau adalah tetangga yang baik, setiap orang yang memerlukan bantuan, tanpa pikir panjang beliau selalu membantu. Pun jika beliau mendapat sedikit rezeki lebih, seketika itu juga beliau bagikan pada tetangga. Tak ada makanan terbuang. Selalu habis. Beliau adalah sosok yang jujur dan apa adanya. Tak bermuka dua. Budhe, sakit liver. Menjelang dipanggil Sang Maha, beliau benar-benar kurus dengan perut yang membesar. Budhe, terakhir berbicara dengan beliau via suara..

“Dilah, kalo bisa secepatnya kamu nikah, mumpung budhe masih sehat. Udah punya pacar kan? Oh, ga punya? Berarti nanti nerima apa adanya calon ya, kayak mas Rohman.. Asalkan dia soleh dan bertanggung jawab dan bisa menjadi seorang imam..”

Budhe, maaf.. Ternyata Allah berkata lain..

Dan yang membuatku semakin terenyuh, saat membayangkan sekarang pakdhe semakin kesepian di rumah, benar-benar sendiri, seperti Bungsu saat ini. Benar yang ibu bilang,”sekarang pakdhe sayapnya tinggal satu, tak lengkap tak imbang lagi..” Pakdhe.. Kita doakan budhe di sana ya..

Budhe, love you to the moon and never back :’)  ..dan yah lagi, aku menangis..

Sendiri sepi di rumah. Semakin menyadari satu hal, I’m nothing without the both, Bapak Ibu..Caraku bermasyarakat masih nol. Mengurus rumah, not bad but not good, too.. Benar yang dikatakan seorang sesepuh desa ini di sebuah nasihat pernikahan, bahwa mungkin memang anda telah mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi dari orang tua anda, menjadi seorang sarjana, namun secara social dan masyarakat, nilai anda masih jauh di bawah pengalaman kedua orang tua anda. Menjadi makhluk social tak semudah yang  Bungsu bayangkan selama ini. Menghadiri undangan dengan mengatasnamakan orang tua, sedikit sungkan tapi harus dilakukan, tidak hanya dua tiga undangan berdatangan, bahkan lima undangan telah menghampiri dalam sepuluh hari ini. Dan bungsu harus menghadiri undangan tersebut. Membawa nama orang tua. Lain halnya jika kau adalah tetangga yang akan mempunyai acara. Sebelum hari H tentu saja ada kaegiatan yang kami sebut “rewang”, membantu persiapan acara. Dan di sana, baru Bungsu menyadari bahwa kegiatan ibu selama ini benar-benar wow, setelah mengajar di sekolah, tanpa istirahat segera menuju ke rumah tetangga. Walaupun lelah dan mengantuk, demi kehidupan bertetangga, semua harus dijalani.

Dan saat semua harus dikerjakan seorang diri, ternyata sedikit ribet. Memasak dan memikirkan apa yang akan dimasak, menyapu dan membereskan rumah yang tidak sempit, merapikan halaman, memberi makan ayam dan kucing, membakar sampah, mencuci  baju dan piring, mencuci motor, belanja ke pasar, menyiapkan pelajaran untuk hari esok. Ribet karena belum terbiasa mungkin. Yah, capek ternyata jadi ibu rumah tangga dan seorang guru. Begitulah ibu selama ini, beliau pasti merasakan hal yang sama. Belum lagi beliau sekarang tak bisa jauh dari bapak. Bapak sangat membutuhkan beliau, dimulai Syawal tahun lalu hingga syawal tahun ini, setahun sudah. Wuuuaaah, pemilik hati seluas samudra! Aku merindumu..

Kamu, kita, sudahlah tak usah sombong, tak usah, jangan pernah merasa lebih dari orang tua. Kita selalu membutuhkan mereka. Kapan pun. Selagi mereka ada, buat mereka bahagia! Kita harus saling mengingatkan. Tak mudah untuk ber-birrul walidain. Karena apa? Semakin berumur mereka, semakin berubah kembali mejadi kekanakan dan terkadang menyebalkan. Hati-hati terhadap suaramu yang meninggi tanpa sadar. Itu dapat membuat mereka sedih dan terluka hatinya. Juga nadamu yang terkesan mengajari, itu takkan membuat mereka senang, karena hei, kau akan selalu menjadi anak-anak ingusan di mata mereka. Hati-hati dosa besar, sebanding syirik pada Sang Maha..

Bapak, Ibu, semoga Allah lancarkan segala urusan, dan Bapak, segera pulih..

“Dek, gak takut di rumah sendirian?” Hanya saja, Bungsu lebih menyukai sendiri untuk saat ini, kecuali Sabtu malam alias malam minggu.

“Yang, gak ada masalah kan di rumah?” Ya, Bungsu baik saja.. hanya saja sedang berharap tak sendiri..

Ketika Doa Belum Terkabul

Aku pun.
Menunggu diijabahnya do’a-do’aku.
..dan Ia tak pernah sekalipun mengingkari janji..

Catatanku

Setiap orang beragama pasti pernah berdoa kepada Sang Pencipta. Kita berdoa kepada Tuhan meminta keselamatan, meminta kesembuhan, meminta petunjuk, meminta ampun, atau meminta apa saja. Berdoa itu pada dasarnya meminta. Kepada siapa lagi kita meminta tolong kalau tidak kepada Tuhan. Saya dan Anda pasti pernah berdoa  kepada Allah untuk meminta suatu keinginan.

Kadang-kadang kita merasa Tuhan mengabulkan (meng-ijabah) doa kita  setelah melihat ada perubahan yang terjadi setelah kita berdoa. Alangkah bahagianya ketika doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Bertambah-tambah rasa iman kita kepada Allah.

Namun kadang-kadang kita merasa doa kita belum dijawab atau diijabah oleh Alllah. Apakah Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya?

Saya yakin seyakin-yakinnya, sesungguhnya Allah pasti mengabulkan (meng-ijabah) setiap doa yang dipanjatkan makhluk-Nya, karena Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia yang telah menciptakan kita,  dan Sang Pencipta pasti menyayangi setiap yang dicitptakannya.

Belum diijabah berati tidak, tetapi ditunda. Bisa jadi…

View original post 212 more words

Eyeglasseser

Apa yang kau pikirkan tentang kacamata? Ada yang  sangat ingin menggunakan kacamata? Hentikan keinginan itu segera atau Percayalah kau akan menyesal. Ini adalah perkataan dari seorang pengguna kacamata-minus-dua-sejak-tujuh-tahun-lalu-dengan-empat-tahun-permanennya.

Apa tah enaknya menggunakan kacamata? Tak ada, kecuali satu dan satu-satunya fungsi, membantu penglihatan penderita presbiopi, miopi, dan atau astigmatisme. Setidaknya, itulah yang dirasakannya selama tujuh tahun terakhir.

Bagaimana tidak? Saat wudhu, kau harus melepaskan benda itu dan bingung meletakkannya di mana, dan setelahnya, jika kau lupa meletakkannya, kau akan kebingungan sendiri mencarinya. Ketergantungan. Pun saat sholat. Sebagian besar pengguna, akan melepaskannya terlebih dahulu supaya hidung dapat menempel sempurna pada lantai tanpa terganggu. Belum lagi saat kau gelisah takut benda itu terinjak dan pecah. Bagaimana? Rumit bukan? Ah tenang saja, ini sengaja dibuat rumit 😀

Atau, kau seorang penikmat hujan? Seorang pengguna kaca berbingkai itu tak akan dapat sepenuhnyaa menikmati hujan. Bagaimanapun, saat kau berkacamata dan menginginkan hujan mengguyurmu, kau harus melepaskan kacamatamu itu atau pandanganmu akan semakin buram karena titik-titik hujan membasahi kacamatamu. Tapi masalah ini hanya berlaku bagi para pengguna lensa kaca dan mika. Solusi lain selain melepaskannya, adalah merogoh kocek semakin dalam untuk membeli lensa dengan kaca anti air.

Dan lagi, kau seorang yang dituntut untuk memasak? Rasakan saja bagaimana saat penutup panci dibuka dan wajahmu berada tepat beberapa centi diatas masakan itu, dan waaaks uap dari panci pun menyerang kacamata dan seketika membuatmu kehilangan pandangan selama kurang lebih dua menit. Atau kau ingin melepaskannya selama memasak? Bisa, dengan syarat kau harus meletakkan objek dengan jarak seperti kau sedang membaca buku.

Lain lagi ketika karena suatu hal kau melepaskan kacamata dan kau dituntut untuk melihat orang di seberang meja. Apa yang terjadi. Mata menyipit sesempit-sempitnya, dengan tujuan memfokuskan pandangan dan adaptasi cahaya. Dan kebanyakan, mata pengguna menjadi  lebih ciut dibandingkan saat mereka memakainya. Dan jika kau melepaskannya, kau akan hanya fokus pada tempat kau berpijak. Sehingga akan terkesan sombong, angkuh dan tak acuh. Walaupun sebenarnya taka da niatan seperti itu.

Pun ketika di studio foto. Untuk keperluan foto formal, seseorang harus melepas kacamatanya. Dan seringkali diingatkan oleh fotografer: ”Maaf bu, pandangannya jangan kosong.” Hei, itu bukan pandangan kosong, nak, tapi sedang mencari titik fokus dan membiasakan mata memandang berkeliling tanpa aksesoris wajib itu. Juga ketika kau berada di depan monitor. Akan serba salah. Dilepas tak terlihat, dikenakan mata akan cepat lelah dan berair.

Bagaimana?

Jadi, apa tah enaknya menggunakan benda berbingkai itu? Tak ada bukan? Jadi mulai detik ini, jagalah matamu seperti kau menjaga pandanganmu. Biarkan ia sehat. Bersyukurlah Allah mengaruniakanmu mata yang kuat dan masih dapat jelas melihat. Jangan kau rusak dengan kebasaan-kebiasaan yang merusak.

Save your eyes. Kau akan merasa benar-benar menyesal jika kehilangannya.

Based on true story 😀

Super Mom (Part 2)

Ini tentang ibuku, yang darahnya menurun padaku.

Tiga bulan terakhir, aku benar-benar mencoba membaca dan memahami. Tentang beliau yang O type dan bapak yang AB type yang oleh Allah dan kehidupan dipersatukan, membina hubungan selama lebih dari 30 tahun dan sampai nanti. Diwarnai dengan berbagai peristiwa penting tidak penting. Penguatan, masalah-masalah kecil hingga krusial, apa yang harus dipendam dan dirasakan seorang diri, apa yang harus dibagi, kapan dan bagaimana mengungkapkan perasaan, bagaimana seharusnya seorang istri bersikap terhadap suami. Aku belajar semua itu dari ibu, yang jalan pikiran kami sama dalam banyak hal. Kami sama dalam tiga hal; melankolis, O type, dan bungsu.

Aku dapat berkaca darinya, tentang O type yang sesungguhnya. O type benar-benar berpikir real, menggunakan sesuatu yang masuk akal dan benar-benar idealis. Bagaimana O membiarkan AB agar “menyentuh tanah” dan “tidak bersikap seperti alien”. Bagaimana beliau menjelaskan dengan hati-hati dan sabar, bahwa ini sebaiknya seperti ini, idealnya seperti itu, tanpa menggunakan nada menggurui, tanpa mendahului AB sebagai kepala rumah tangga. Bagaimana beliau selalu berlapang dada menerima segala keputusan tak masuk akal AB, bagaimana beliau selalu menghilangkan rasa dongkol yang bercokol, bagaimana beliau mengalihkan perhatian saat hal-hal tak masuk akal itu terlontar, bagaimana beliau selalu berkata “ya!” ketika tubuh, hati dan pikiran mengungkapkan yang sebaliknya.

Beliau, bungsu yang sedari kecil tak diperkenalkan dengan makna bungsu. Manja tidak. Beliau mandiri. Sebagai orang Jogja tulen, yang tentu saja pada jamannya masih sangat kolot, beliau selalu diajarkan tentang adab yang sebagian diturunkan kepadaku. Tentang adab berbicara, sebagai seorang perempuan, berteriak adalah sesuatu yang tabu, jadi untuk menyampaikan sesuatu harus beanr-benar tepat berada di depan orang kedua, tanpa berteriak. Tentang adab berjalan, seorang perempuan tidak boleh berjalan dengan dua garis, harus satu garis lurus (lihat para model, dan kau akan paham, apa itu berjalan satu garis lurus). Adab makan, yang tidak boleh ada suara kecapan bibir dan dentingan sendok di piring.

Beliau, mengajarkanku tentang bagaimana bersikap terhadap tetangga. Tidak ambil pusing dalam hal-hal kecil yang mengganggu. Tak sungkan menyapa terlebih dahulu, dan membalas sapaan dengan nada yang easy listening. Hanya satu yang kusayangkan. Beliau bukan pengkader yang baik. Beliau ahli memasak, aku? Memasak dan membuat cake seadanya. Beliau ahli menjahit dan menyulam, aku? Hanya bisa menjahit baju yang sobek dan memasang kancing. Hahaha. Ah andai, andai saja. Ya sudahlah, ikhlaskan saja. Ikhlas adalah kunci kebahagian, kau tahu itu?

Beliau tak suka kebisingan, mencintai suasana tenang. Beliau tak bisa menyanyi. Beliau tak suka melakukan pekerjaan indoor karena itu membuatnya mengantuk. Beliau selalu bergerak. Beliau bisa tidur efektif, hanya sekitar 15 menit, mampu bangun dan melakukan segalanya kembali. Kaki kiri beliau lebih lemah dari kaki kanan. Beliau tak mau lagi menggunakan motor karena kejadian ban pecah lebih dari sepluh tahun berlalu. Beliau selalu menggunakan sepeda ke manapun.

Bagaimana pun, beliau menginspirasi dan membuatku banyak belajar. Belajar tangguh. Belajar menerima. Belajar tentang hati yang luas. Belajar menutupi apa yang harus ditutupi dan mengeluarkan apa yang seharusnya dikeluarkan. Pada siapa, unruk siapa.belajar selalu bermuka manis dan positif. Hingga terlihat awet muda. Belajar professional. Belajar berjuang. Belajar hidup dan menghidupkan.

Super mom, super woman. Love you to the moon and back.

B-type

Baiklah, aku menuliskan ini karena aku rindu sosok itu. B-type. Namun tak ada bahan untuk dibahas lagi kini. Jadi aku akan membuat sebuah alasan untuk memulai sebuah bahasan.

Semua orang memanggilnya “mbak”. Bukan karena apa-apa, melainkan memang ia adalah “mbak” dan pantas menjadi seorang “mbak” bagi semua orang. Wajar saja. Ia dewasa, bicaranya tak sekedar bicara. Ia menyuarakan apa yang dipikirkan, tanpa menyinggung suatu pihak tapi benar-benar pas sasaran. Aku menyukai gaya bicaranya. Berisi. Opininya tidak hanya fokus pada satu sudut, tapi luas menyebar ke beberapa sudut pandang dan tak terbantah. Itu tentang gaya bicaranya dan apa yang ia bicarakan.

Dan entah, aku heran bagaimana ia dapat mengetahui segala hal. Yang bersifat rahasia sekalipun. Segalanya.  Mulai dari urusan organisasi, kampus, bahkan urusan pribadi hampir setiap individu yang ia kenal, dari yang paling muda hingga yang paling tua.  Ia tipe analis. Analis yang hebat. Sekedar membaca beranda, atau mimik muka seseorang, ia dapat mengetahui hal yang sedang dirahasiakan. Aku curiga ia memiliki mata-mata. Atau indra keenam. Ah iya, ia memilikinya. Indra keenam itu berupa analisisnya yang tajam. Jangan kau dekati dia jika tak mau rahasiamu terungkap. Satu yang membuatku nyaman didekatnya, ia tak membeberkan rahasia yang ia ungkap ke banyak orang. Dan bahkan mungkin, ia mengetahui apa yang aku sembunyikan (atau aku yang tak pandai menyembunyikan?) dan bahkan aku bisa menceritakan ingin dan mimipiku padanya. Ingin tahu informasi penting? Tanyaan saja padanya, karena ia bisa dipercaya.

Ia momentreminder terbaik yang pernah aku kenal hingga saat ini. Setiap yang berkesan selalu  diingatnya, tahun tanggal bulan hingga detik. Pagi atau siang atau sore atau malam. Kau mengenakan baju warna apa. Ia mengingat semuanya. Aku tak yakin ada seseorang lain yang akan mengalahkanya dalam hal itu. Ia benar-benar seorang perempuan, karena ia ahli sejarah. Mulai dari raker BAROKAH, sertijab, pertemuan terakhir di Kafé Kenangan. Tak hanya waktunya, namun juga  setiap detail kejadian seru. Yang terjadi di setiap agenda. Is it a wow?  Yeah, exactly!

She is wifeable and momable. Ia bisa memasak dengan bumbu yang pas, meski aku tahu ia jarang memasak. Pempek, cake, dan makanan-makanan kecil sudah tak lagi sulit dilakukannya. Membersihkan rumah, oke saja. Yah intinya, semua pekerjaan rumah tangga dapat ia kerjakan dengan baik. Serahkan urusan rumah tangga padanya, pasti semua beres. Wife-able. Setiap anak kecil, baik masih dalam gendongan maupun yang sedang belajar berlari, nyaman berada di dekatnya. Bahkan yang beru sekilas kenal, mau saja ia digendong olehnya. Girl, you’re mom-able. Segerakanlah, girl.. Dan menurutku, kau seharusnya dipertemukan oleh-Nya dengan seseorang yang lebih dewasa dan umurnya beberapa tahun di atasmu, hehe 😀

Ia sama sekali tak bisa dibilang gemuk (padahal makan pun tak juga sedikit). Ia anak motor, sejak SMP ia melakoninya, dari motor bebek hingga motor gede. Ia pemakan avocado,chocolate dan ice cream, apalagi jika semuanya gratis. Dia guru sekolah dasar yang asik. Pembicara yang baik. Dia tak dapat menyembunyikan ketaksukaannya terhadap seseorang, jika ia tak suka, maka parah bengis. Namun jika ia sekali sayang dan menyukai seseorang, rasakan saja bagaimana nyaman bersamanya, untuk makan bersama, nonton dan teriak-teriak (rela seseorang lain menyaksikan teriakan kami) bersama, sekedar hunting barang, atau jalan untuk refreshing-mind. ia adalah good planner, ide-idenya cemerlang (ia selalu ditempatkan di sie acara pada banyak acara). Ia benar-benar B-type. Tapi ia tak maniak kucing. Dan dia.. ehem, bisa tetap fokus syuro dengan bermain andro 😛

Perlu dicatat, jangan macam-macam jika ia sedang badmood, bisa-bisa kau terkena lampiasan moodnya yang buruk.

Aku sangat ingin menuliskannya, semoga berkenan 🙂 Masih banyak yang ingin aku tulis, di lain kesempatan, in sha Allah.. Karena kau tau aku tak pernah bisa mengungkapkannya sekedar lewat kata. Terima kasih telah mampir di hidupku dan sekedar bertemu denganku..

Manulis Lagi dan Selalu

Bermula dari postingan seorang pejabat kampus tahun ini.

“Ketika mengetik “dakwah ilmiy” sebagai keywords di google-search, top-search adalah tulisan mbak Fadhil. Bagus mbak, lanjutkan.”

Komentar di bawahnya, dari seorang petinggi kampus lainnya, “Waah, mbak blogger.. eh, tapi blognya sawangan (penuh sarang laba-laba, red) ya?” jlebbb..

Ah, malu rasanya. Bukan karena alamat blog yang kini diketahui beberapa orang, bukan. Bahkan menjadi sebuah kepuasan tersendiri ketika tulisanmu dapat bermanfaat bagi  orang lain. Melainkan malu karena blog yang dimaksud adalah blog yang tak pernah diurus oleh pemiliknya semenjak hampir setahun yang lalu. Malu karena aku dilahirkan dari bidang ini, writing. Dan seharusnya aku ada dan selalu hidup menghidupkan bidang ini. Malu, karena mereka yang lebih muda dariku jauh lebih produktif dalam menulis. Dan tulisannya, wow! Sedang aku? Menulis pun jarang. Malu karena ternyata writing belum menjadi ikkansei (kebiasaan yang mendarah daging), jangankan ikkansei, tingkat habit pun belum.

Padahal aku sangat ingin selalu menulis. Itu mimpiku, untuk selalu menulis, apapun yang ada dalam pikiranku. Namun, semangat itu naik dan turun sesukanya. Ini kelemahanku, I’m not a good planner. Seharusnya, aku membentuk sebuah misi untuk mencapai tujuan itu, namun belum kulakukan hingga saat ini.

Dari beberapa yang aku dapat (lagi-lagi belum kulakukan dan harus segera kulakukan mulai aku menuliskan ini), untuk membentuk sebuah writing-ikkansei, setiap harinya kita harus menulis, tentang apapun, sediakan waktu khusus yang tak boleh diganggu oleh apapun (sekitar 20 menit atau lebih setiap harinya), merencanakan apa yang harus ditulis dan tetap menulis walaupun apa yang ingin ditulis tak direncanakan sebelumnya, menulis apapun, sebuah materi yang telah disampaikan, hasil bacaan, atau kondisi yang dialami yang dapat diambil pelajaran, puisi ataupun berupa diary (jika tulisan itu berupa sebuah diary, harus dipilih mana yang layak untuk dipublish mana yang tidak, jangan sampai tulisanmu merusak dan menimbulkan fitnah).

The keywords are  do and don’t stop!

Ini berbicara tentang istiqomah. Menjadi stabil itu tak semudah memulai suatu pekerjaan. Untuk menjadikannya sebuah kebiasaan, perlu sebuah paksaan dan continuitas. Jangan berhenti! Jika kau berhenti, kau akan melakukan paksaan yang sama berulang kali. Dan kau hanya berputar di sana. Lakukan saja dan jangan berhenti!

Be the writer, no matter what, Ragil! Karena kau tidak dilahirkan untuk banyak bicara, maka menulislah untuk menceritakan segalanya. Jika kau tak menulis, dengan apa lagi kau akan menjadi bermanfaat? Berjanjilah untuk selalu membersihkan ‘rumah’mu ini.

Aku akan menulis lagi dan akan selalu! Bismillah..

Yang Diam-diam Tersakiti

“Di setiap pernikahan, ada orang yang diam-diam tersakiti.” (Anonim)

Hei kawan, awalnya aku juga tak percaya dengan kalimat tersebut. Aku bertanya, benarkah kuantor universal itu? Mungkinkah lebih tepatnya kuantor yang menyatakan “ada”? mulanya aku bertanya dan sekaligus mencoba mencari jawaban dari tanya itu.

Dan aku berpikir, suatu kalimat tidak akan dikatakan dengan tanpa alasan. Aku terus mencari alasan itu.

Di setiap pernikahan, ada orang yang diam-diam tersakiti.

Tentu saja, jawab batinku kali ini. Bukan dalam konteks dia yang pernah diam-diam mempunyai rasa fitrah, bukan juga dia yang berencana mengutarakan niat namun selip waktu, bukan dia dengan rasa yang mungkin tak terungkap dan terucap. Semata-mata bukan hanya dia. Bahkan lebih dekat dari itu.

Dia yang dekat itu adalah ayah. Ini pasti. Karena dengan suatu pernikahan, ia akan lepas tanggung jawab dalam memberikan kehidupan, ia tak lagi menjadi imam yang menjadi nomor satu dalam menjalankan perintahnya, ia tak lagi menjadi prioritas. Tapi imamnya yang kini. Saat imam tersebut berkata lain, maka apa akan dikata, ia yang muslimah akan meng-iya-kan apa yang dikatakan sang imam, selama itu baik dan tak menyimpang.

Dia yang dekat itu adalah ibu. Ia tak lagi  menjadi satu tempat berkeluh, tempat bercerita tentang segala hal, bahkan menjadi hal rahasia antaranya dan sang imam. Mudik tak lagi setahun sekali karena jadwal yang terjadwal berseling antara orangtuanya dan orangtuamu.

Dia yang tersekat itu adalah orang tuamu kawan. Bukan hanya dan cuma dia yang diam-diam akan selalu melihat dan mengawasimu dari kejauhan.

LOVING MATHEMATICS!

Matematika, boy!

Sebagian orang menyatakan bahwa matematika adalah ma(kin) te(kun) ma(kin) ti(dak) ka(ruan). Pernahkah juga terpikir seperti itu? Boy, ubah mindset itu. For your info, Indonesia masih berada di pringkat 63 dari 66 negara yang diteliti kemampuan matematikanya, dalam PISSA (Program for International Student Asessment) 2006. Don’t you surprise it happened such a that? Dalam hal ini, matematika bukan hal yang dapat disalahkan. Karena matematika akan tetap seperti itu, bersifat abstrak dan unik.

Matematika bukan hal yang mengerikan dan membosankan seperti sebagian orang memandangnya. Mulai sekarang, ber-positif-thinking-lah terhadap matematika. Butuh alasan? Baiklah.

Pertama, matematika mengajarkan kepada manusia untuk hidup tepat, teratur dan disiplin. Bagaimana tidak? Penyelesaian masalah dalam matematika, harus selalu tepat cara yang digunakan, harus sesuai dengan tujuan penyelesaian masalah alias teratur dan disiplin. Jika tidak, ia akan tersesat dan tak akan menemukan solusi dari masalah yang menuntut untuk diselesaikan.

Kedua, matematika mengajarkan kepada manusia untuk selalu memperhatikan proses. As you know, matematika memiliki algoritma, yang harus dijalankan setiap langkahnya dengan teratur, step by step. Saat proses itu tak teratur alur penyelesaiannya, ini akan berdampak pada solusi akhir.

Ketiga, matematika mengajarkan manusia untuk selalu berpikir kreatif dalam penyelesaian sebuah masalah. Matematika itu penuh manipulasi positif, dan diharapkan dengan manipulasi tersebut, ia dapat memudahkan penyelesaian masalah yang diberikan. Tentu saja, manipulasi itu berasal dari hasil berpikir kreatif manusia. Hanya menusia yang berpikir kreatif yang dapat menemukan dan menggunakan bentuk manipulasi ini.

Keempat, matematika mengajarkan dan selalu mengingatkan manusia, bahwa disetiap permasalahan yang diberikan selalu ada solusinya. Solusi dapat berupa solusi tunggal, dua solusi, bahkan banyak solusi. Pasti ada algoritma penyelesaiannya. Semakin banyak masalah yang diselesaikan, ia akan terbiasa menghadapi permasalahan yang rumit. Demikian juga manusia, banyak masalah yang didatangkan kepadanya, ia akan semakin semangat hidiup dan menjalani kehidupan. Pasti akan ada jalan, yang ujungnya adalah solusi masalah, matematika dan kehidupan.

Boy, I’ll remind you about something important: Allah never throw you to problems that you can’t trough it!

As He said in the Holly One, Q. S, Al-Baqarah: 286

Hidup bukanlah tanpa masalah, tapi hidup adalah tentang menyelesaikan masalah.

… untuk selalu berusaha, untuk selalu berbaik sangka,untuk selalu berbagi, dan untuk saling mengingatkan, dengan segala keterbatasan ilmu.

Sendiri Menyepi

Sendiri menyepi, tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakan ku jauh dari ketenangan
Perlahan ku cari, mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi

Oh tuhan aku merasa, sendiri menyepi
Ingin ku menangis, menyesali diri mengapa terjadi
Sampai kapan ku begini, resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahayamu yang sempat menyala benderang di hidupku

Lagu ini, mendengarkannya saat merasa jauh dari-Nya, menyentuh, membuat siapa pun mengeluarkan air bening itu. Siapapun pasti pernah mengalami perasaan itu, hampa dan resah, dan tak jarang sebabnya tak terlacak. Itulah fitrah rasa manusia, yang tak bisa dipungkiri akan selalu mengembalikan semuanya, segala urusan pada-Nya, Yang Maha Kasih Tanpa Pilih Kasih.

Seseorang mengatakan: “Masih ada lantai ini untuk bersujud, menceritakan semua kegelisahan itu pada-Nya”. Aku menyukai kata-kata ini. Masuk dan meresap hingga hati terdalam. Terima kasih. Terima kasih untuk menyadarkanku, masih Dia dan hanya Dia yang selalu ada, yang tak pernah bosan untuk mendengarkan permintaan manusia bodoh yang tak bersyukur atas segala keadaan dan nikmat, pun tak pernah bosan untuk selalu mengampuni dosa, mekipun manusia selalu mengingkari janji. Terima kasih untuk menyadarkanku, Dia-lah yang memberikan setiap masalah sebagai ujian pendewasaan, dan seharusnya Dia-lah yang menjadi tempat pertama kau berkeluh, bukan siapapun dan apapun yang lain karena Dia Sang Pemberi Solusi Terbaik, bukan yang kau minta, tapi apa yang kau butuhkan sebenarnya. What you need, not what you want. Terima kasih untuk menyadarkanku, saat aku kecewa terhadap seorang manusia, Dia mengajarkan padaku dan menyadarkanku bahwa hanya Dia sebaik-baik tempat bersandar.

“Minta sama Allah, minta semuanya ke Allah, sekecil apapun itu.” Aku belajar untuk ini, mulai saat kalimat itu diucapkan. Terima kasih. Kembalikan semuanya ke Maha Penyayang Yang Tak Pernah Pilih Sayang. Jangan sampai Dia selalu mengujimu dengan kegelisahan, agar kau selalu mengingatnya, karena tak pernah kau mengingat-Nya saat Dia mengujimu dengan ketenangan. Ingat Dia, apapun keadaanmu, lapang pun sempit.

Yaa Ghaffaru, ighfir dzunubana
Karena kita tak pernah lepas dari dosa

Ya Mujiibu, ajib du’aana
Dia Mengetahui Yang Terbaik, meski bagi kita itu terlihat tak baik

Ya Lathifu, ulthuf binaa
Yang Maha Lembut, Lembutkanlah hati-hati kami

Belajar untuk menyerahkan semua pada-Nya,
Belajar untuk melakukan semua hanya untuk-Nya, untuk mencari ridho-Nya.