Sendiri Menyepi

Sendiri menyepi, tenggelam dalam renungan
Ada apa aku, seakan ku jauh dari ketenangan
Perlahan ku cari, mengapa diriku hampa
Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, mungkin dan mungkin lagi

Oh tuhan aku merasa, sendiri menyepi
Ingin ku menangis, menyesali diri mengapa terjadi
Sampai kapan ku begini, resah tak bertepi
Kembalikan aku pada cahayamu yang sempat menyala benderang di hidupku

Lagu ini, mendengarkannya saat merasa jauh dari-Nya, menyentuh, membuat siapa pun mengeluarkan air bening itu. Siapapun pasti pernah mengalami perasaan itu, hampa dan resah, dan tak jarang sebabnya tak terlacak. Itulah fitrah rasa manusia, yang tak bisa dipungkiri akan selalu mengembalikan semuanya, segala urusan pada-Nya, Yang Maha Kasih Tanpa Pilih Kasih.

Seseorang mengatakan: “Masih ada lantai ini untuk bersujud, menceritakan semua kegelisahan itu pada-Nya”. Aku menyukai kata-kata ini. Masuk dan meresap hingga hati terdalam. Terima kasih. Terima kasih untuk menyadarkanku, masih Dia dan hanya Dia yang selalu ada, yang tak pernah bosan untuk mendengarkan permintaan manusia bodoh yang tak bersyukur atas segala keadaan dan nikmat, pun tak pernah bosan untuk selalu mengampuni dosa, mekipun manusia selalu mengingkari janji. Terima kasih untuk menyadarkanku, Dia-lah yang memberikan setiap masalah sebagai ujian pendewasaan, dan seharusnya Dia-lah yang menjadi tempat pertama kau berkeluh, bukan siapapun dan apapun yang lain karena Dia Sang Pemberi Solusi Terbaik, bukan yang kau minta, tapi apa yang kau butuhkan sebenarnya. What you need, not what you want. Terima kasih untuk menyadarkanku, saat aku kecewa terhadap seorang manusia, Dia mengajarkan padaku dan menyadarkanku bahwa hanya Dia sebaik-baik tempat bersandar.

“Minta sama Allah, minta semuanya ke Allah, sekecil apapun itu.” Aku belajar untuk ini, mulai saat kalimat itu diucapkan. Terima kasih. Kembalikan semuanya ke Maha Penyayang Yang Tak Pernah Pilih Sayang. Jangan sampai Dia selalu mengujimu dengan kegelisahan, agar kau selalu mengingatnya, karena tak pernah kau mengingat-Nya saat Dia mengujimu dengan ketenangan. Ingat Dia, apapun keadaanmu, lapang pun sempit.

Yaa Ghaffaru, ighfir dzunubana
Karena kita tak pernah lepas dari dosa

Ya Mujiibu, ajib du’aana
Dia Mengetahui Yang Terbaik, meski bagi kita itu terlihat tak baik

Ya Lathifu, ulthuf binaa
Yang Maha Lembut, Lembutkanlah hati-hati kami

Belajar untuk menyerahkan semua pada-Nya,
Belajar untuk melakukan semua hanya untuk-Nya, untuk mencari ridho-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s