Lonely Homey

Jadi, sudah sekitar sepuluh hari bungsu diberi kesempatan oleh bapak ibu untuk mengatur rumah dan menjalankan perannya dalam masyarakat. Sebut saja begitu. Ya begitulah. Bungsu tinggal sendiri di rumah untuk waktu yang belum ditetapkan. Bapak ibu ke Jogja, dengan setidaknya tiga tujuan: Takziyah almarhumah budhe, nengok cucu (Haura Nazhifa, adeknya Yofi) yang baru menyapa dunia pada Romadhon tahun ini, sekaligus terapi.

Sedikit tentang budhe Semi. Beliau.. jika hanya sekilas melihat dan kenal, beliau terlihat judes, bersuara keras dengan nada tinggi. Tapi, itulah yang membuat aku selalu ingin bertemu beliau. Aku kangen beliau. Beliau sosok ibu yang hebat, terbukti tiga anaknya kini telah menjadi orang hebat di daerah yang jauh dari tempat kelahiran. Beliau istri yang baik dan sholihah, selalu mengingatkan pakdhe jika lupa akan pengajiian rutin dan selalu mengingatkan beliau untuk selalu solat berjama’ah di masjid. Pasangan yang romantis, begitu aku melihatnya. Beliau adalah tetangga yang baik, setiap orang yang memerlukan bantuan, tanpa pikir panjang beliau selalu membantu. Pun jika beliau mendapat sedikit rezeki lebih, seketika itu juga beliau bagikan pada tetangga. Tak ada makanan terbuang. Selalu habis. Beliau adalah sosok yang jujur dan apa adanya. Tak bermuka dua. Budhe, sakit liver. Menjelang dipanggil Sang Maha, beliau benar-benar kurus dengan perut yang membesar. Budhe, terakhir berbicara dengan beliau via suara..

“Dilah, kalo bisa secepatnya kamu nikah, mumpung budhe masih sehat. Udah punya pacar kan? Oh, ga punya? Berarti nanti nerima apa adanya calon ya, kayak mas Rohman.. Asalkan dia soleh dan bertanggung jawab dan bisa menjadi seorang imam..”

Budhe, maaf.. Ternyata Allah berkata lain..

Dan yang membuatku semakin terenyuh, saat membayangkan sekarang pakdhe semakin kesepian di rumah, benar-benar sendiri, seperti Bungsu saat ini. Benar yang ibu bilang,”sekarang pakdhe sayapnya tinggal satu, tak lengkap tak imbang lagi..” Pakdhe.. Kita doakan budhe di sana ya..

Budhe, love you to the moon and never back :’)  ..dan yah lagi, aku menangis..

Sendiri sepi di rumah. Semakin menyadari satu hal, I’m nothing without the both, Bapak Ibu..Caraku bermasyarakat masih nol. Mengurus rumah, not bad but not good, too.. Benar yang dikatakan seorang sesepuh desa ini di sebuah nasihat pernikahan, bahwa mungkin memang anda telah mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi dari orang tua anda, menjadi seorang sarjana, namun secara social dan masyarakat, nilai anda masih jauh di bawah pengalaman kedua orang tua anda. Menjadi makhluk social tak semudah yang  Bungsu bayangkan selama ini. Menghadiri undangan dengan mengatasnamakan orang tua, sedikit sungkan tapi harus dilakukan, tidak hanya dua tiga undangan berdatangan, bahkan lima undangan telah menghampiri dalam sepuluh hari ini. Dan bungsu harus menghadiri undangan tersebut. Membawa nama orang tua. Lain halnya jika kau adalah tetangga yang akan mempunyai acara. Sebelum hari H tentu saja ada kaegiatan yang kami sebut “rewang”, membantu persiapan acara. Dan di sana, baru Bungsu menyadari bahwa kegiatan ibu selama ini benar-benar wow, setelah mengajar di sekolah, tanpa istirahat segera menuju ke rumah tetangga. Walaupun lelah dan mengantuk, demi kehidupan bertetangga, semua harus dijalani.

Dan saat semua harus dikerjakan seorang diri, ternyata sedikit ribet. Memasak dan memikirkan apa yang akan dimasak, menyapu dan membereskan rumah yang tidak sempit, merapikan halaman, memberi makan ayam dan kucing, membakar sampah, mencuci  baju dan piring, mencuci motor, belanja ke pasar, menyiapkan pelajaran untuk hari esok. Ribet karena belum terbiasa mungkin. Yah, capek ternyata jadi ibu rumah tangga dan seorang guru. Begitulah ibu selama ini, beliau pasti merasakan hal yang sama. Belum lagi beliau sekarang tak bisa jauh dari bapak. Bapak sangat membutuhkan beliau, dimulai Syawal tahun lalu hingga syawal tahun ini, setahun sudah. Wuuuaaah, pemilik hati seluas samudra! Aku merindumu..

Kamu, kita, sudahlah tak usah sombong, tak usah, jangan pernah merasa lebih dari orang tua. Kita selalu membutuhkan mereka. Kapan pun. Selagi mereka ada, buat mereka bahagia! Kita harus saling mengingatkan. Tak mudah untuk ber-birrul walidain. Karena apa? Semakin berumur mereka, semakin berubah kembali mejadi kekanakan dan terkadang menyebalkan. Hati-hati terhadap suaramu yang meninggi tanpa sadar. Itu dapat membuat mereka sedih dan terluka hatinya. Juga nadamu yang terkesan mengajari, itu takkan membuat mereka senang, karena hei, kau akan selalu menjadi anak-anak ingusan di mata mereka. Hati-hati dosa besar, sebanding syirik pada Sang Maha..

Bapak, Ibu, semoga Allah lancarkan segala urusan, dan Bapak, segera pulih..

“Dek, gak takut di rumah sendirian?” Hanya saja, Bungsu lebih menyukai sendiri untuk saat ini, kecuali Sabtu malam alias malam minggu.

“Yang, gak ada masalah kan di rumah?” Ya, Bungsu baik saja.. hanya saja sedang berharap tak sendiri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s