Manulis Lagi dan Selalu

Bermula dari postingan seorang pejabat kampus tahun ini.

“Ketika mengetik “dakwah ilmiy” sebagai keywords di google-search, top-search adalah tulisan mbak Fadhil. Bagus mbak, lanjutkan.”

Komentar di bawahnya, dari seorang petinggi kampus lainnya, “Waah, mbak blogger.. eh, tapi blognya sawangan (penuh sarang laba-laba, red) ya?” jlebbb..

Ah, malu rasanya. Bukan karena alamat blog yang kini diketahui beberapa orang, bukan. Bahkan menjadi sebuah kepuasan tersendiri ketika tulisanmu dapat bermanfaat bagi  orang lain. Melainkan malu karena blog yang dimaksud adalah blog yang tak pernah diurus oleh pemiliknya semenjak hampir setahun yang lalu. Malu karena aku dilahirkan dari bidang ini, writing. Dan seharusnya aku ada dan selalu hidup menghidupkan bidang ini. Malu, karena mereka yang lebih muda dariku jauh lebih produktif dalam menulis. Dan tulisannya, wow! Sedang aku? Menulis pun jarang. Malu karena ternyata writing belum menjadi ikkansei (kebiasaan yang mendarah daging), jangankan ikkansei, tingkat habit pun belum.

Padahal aku sangat ingin selalu menulis. Itu mimpiku, untuk selalu menulis, apapun yang ada dalam pikiranku. Namun, semangat itu naik dan turun sesukanya. Ini kelemahanku, I’m not a good planner. Seharusnya, aku membentuk sebuah misi untuk mencapai tujuan itu, namun belum kulakukan hingga saat ini.

Dari beberapa yang aku dapat (lagi-lagi belum kulakukan dan harus segera kulakukan mulai aku menuliskan ini), untuk membentuk sebuah writing-ikkansei, setiap harinya kita harus menulis, tentang apapun, sediakan waktu khusus yang tak boleh diganggu oleh apapun (sekitar 20 menit atau lebih setiap harinya), merencanakan apa yang harus ditulis dan tetap menulis walaupun apa yang ingin ditulis tak direncanakan sebelumnya, menulis apapun, sebuah materi yang telah disampaikan, hasil bacaan, atau kondisi yang dialami yang dapat diambil pelajaran, puisi ataupun berupa diary (jika tulisan itu berupa sebuah diary, harus dipilih mana yang layak untuk dipublish mana yang tidak, jangan sampai tulisanmu merusak dan menimbulkan fitnah).

The keywords are  do and don’t stop!

Ini berbicara tentang istiqomah. Menjadi stabil itu tak semudah memulai suatu pekerjaan. Untuk menjadikannya sebuah kebiasaan, perlu sebuah paksaan dan continuitas. Jangan berhenti! Jika kau berhenti, kau akan melakukan paksaan yang sama berulang kali. Dan kau hanya berputar di sana. Lakukan saja dan jangan berhenti!

Be the writer, no matter what, Ragil! Karena kau tidak dilahirkan untuk banyak bicara, maka menulislah untuk menceritakan segalanya. Jika kau tak menulis, dengan apa lagi kau akan menjadi bermanfaat? Berjanjilah untuk selalu membersihkan ‘rumah’mu ini.

Aku akan menulis lagi dan akan selalu! Bismillah..

2 thoughts on “Manulis Lagi dan Selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s