-Aku-

Hidup sebagai seorang ragil (jawa: bungsu) ^^

Suatu keniscayaan bagi seorang Ragil untuk menjadi manja. Dan itu terjadi padanya, di awal masa hidupnya. Dilahirkan tanpa dampingan sang bapak (karena bapak keluar daerah) pada malam Jum’at Kliwon tengah malam di rumah bidan desa. Agustus hari ketujuh di tahun 1992. Ibu meninggalkan tiga anak perempuan kecilnya yang hanya berbeda  satu tahun yang tengah tidur lelap karena beliau tak dapat tidur, gelisah, karena memang malam itulah janin dalam rahimnya akan bertemu dunia. Beruntung tetangga sedang mengadakan perbaikan rumah sehingga walau tengah malam, tetap terdapat suara (jika tidak mau dibilang sangat sepi).  Dan menjadi sebuah catatan kecil bahwa bapak pulang dengan membawakan oleh-oleh tanaman anggrek dan bukan berupa popok bayi.

Di hari ketujuh kelahirannya, tersebutlah nama Ragil, Nur Fadlilah. Entah, sepertinya sang bapak benar-benar terobsesi dengan nama depan itu. Nur Wahidah. Nur Fatkhurrohmah. Nur Fitri Yani. Nur Fadlilah. Ya ya ya.. Nama adalah sebuah do’a. Nur adalah cahaya. Cahaya selalu bersifat lembut dan tak menyilaukan. Jadilah cahaya yang utama. Begitulah tersebut  do’a. Nama sederhana dengan makna tak sederhana. Hei Ragil, kau telah mendapatkan salah satu hakmu dari bapakmu, nama yang baik. Berterimakasihlah padanya.

Begitulah, hingga di masa kanak-kanaknya ia menjadi seorang gadis kecil tengil, menyebalkan, cengeng dan tak mau mengalah. “Aku harus menang dalam apapun!” begitulah motto kecilnya. Namun, beberapa hal menjadi sebuah kelebihan di mata bapak dan ibu. Ragil selalu menempati urutan pertama atau kedua dalam kelas selama pendidikan dasarnya. Tidak boros dan penurut.

Terlepas dari sekolah dasar, ia diminta sang bapak untuk pergi meninggalkan desa kecil-nyungsep-tercinta-nya, Makarti Jaya, yang  jika kau gunakan google-map untuk menemukannya, kau takkan berhasil. Makarti Jaya adalah sebuah desa sekaligus kecamatan di kabupaten Banyuasin (yang menurut data, kabupaten tersebut adalah kabupaten tertinggal), Sumatera Selatan. Mungkin bisa disebut pulau, karena tak ada satu kendaraan daratpun yang bisa digunakan untuk mencapainya.

Pernah terlontar dari mulut kecilnya yang meyebalkan, ketika sang ibu menanyakan kesediaan dan kesiapan kepergiannya,”Bu, memang bagaimana rasa kangen itu?” Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang menantang dan sombong dan tersirat makna “Bu, aku siap lakukan apapun, aku tak takut!” Dan baru-baru ini Ragil menyadari pertanyaan itu pertanyaan teraneh yang pernah terlontar. Bagaimana tidak? Sang ibu benar-benar khawatir ragilnya belum siap dilepas, ia masih terlalu kecil. Beliau selalu memikirkannya, hingga suatu saat Ragil mendapatkan kabar dari tetangga bahwa ibu pernah benar-benar kurus setelah Ragil merantau. Hah? Merantau? Ya, Merantau.. atau dibuang? Entahlah. Tapi aku benar-benar bersyukur pernah “dibuang” ke sana.

Yogyakarta adalah kota tujuan untuk melanjutkan pendiidikan. Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Di sanalah, bapak meminta ragil menuntut ilmu. Ragil benar-benar penurut, bukan? Lingkungan yang kondusif untuk menjadikannya seorang good-girl. Sebuah sekolah yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan (Madrasah Mu’allimiin adalah sebutan sekolah untuk laki-laki). Tak pernah terpikirkan olehnya untuk menjadi seorang bad-girl. Ia benar-benar tak ingin. Lagi, ia mendapatkan posisi atas dalam 6 tahun pendidikan menengahnya. Bahasa Arab adalah salah satu mata pelajaran kesukannya, selain ilmu-ilmu alam dan eksak.

Hingga suatu saat, ia mendapatkan jawaban atas pertanyaan aneh dan menyebalkannya. Ia benar-benar rindu ibu, tak tertahankan hingga ia lagi-lagi menangis. Bagaimana tah rasanya, saat rindu namun tak bertemu bahkan mendengar suara pun bagaimana tak tahu. Ibu, sekarang Ragil tahu bagaimana rasa rindu itu. Menyesakkan dan melelahkan bila kau tak melepaskan rasa itu. Ia mencatatnya baik-baik.

Enam tahun, Jogja yang kondusif dan begitu nyaman itu menjadi bagian tak terlupa. Tapi hei, sepertinya Ragil tak memiliki jiwa traveller, ah sayang sekali. Jadwal yang padat dan Ragil yang benar-benar good-girl­ menjadi dua alasan tak terpisahkan untuk menjawap pertanyaan: “mengapa tak jalan-jalan ke semua tempat di Jogja?” Dan sepertinya ia sedikit menyesal akan hal itu. Enam tahun, ia kembali menentukan pendidikan selanjutnya, menuju sebuah perguruan tinggi. Universitas Negeri Yogyakarta, itulah universitas impiannya. Alasannya sangat sederhana, ia ingin menjadi guru dan ingin tetap berada di Jogja.

Then what?

Ia tertakdir untuk kembali mendekati tanah kelahirannya. Bukan di Yogyakarta, namun Indralaya. Daerah lintas timur, dengan legenda kemacetan dan jalan berlubangnya. Kota berdebu tanpa lampu merah. Universitas Sriwijaya. Di sanalah Ragil meneruskan mimpinya. Pendidikan Matematika adalah pilihannya. Ya. Guru. Karena ibunya adalah seorang guru. Guru yang selalu dicintai, menginspirasi, dikenang, dan dikelilingi oleh anak didiknya. Itu alasan terbesar Ragil memilih bercita-cita menjadi seorang guru. Dibesarkan dalam lingkungan pendidikan. Ia begitu mencintai dunia itu.

Setahun kehidupannya di kampus terluas se-Asia Tenggara, berjalan biasa-biasa saja. Berangkat kuliah, mengikuti perkuliahan dengan baik, berbusana baik, mengenakan celana dan kerudung tipis. Menginjak tahun kedua, sentuhan-sentuhan perubahan itu mulai terasa. Ia menemukan kehidupan baru. Kehidupan yang kental dengan nuansa adem dan nyaman. Bergabunglah ia dengan sebuah organisasi fakultas, BO BAROKAH, orang menyebutnya dengan Rohisnya fakultas. Rahasia besar-Nya, Ragil dipertemukan dengan orang-orang spesial yang selalu tersenyum dan membantu, yang selalu sholat tepat waktu plus ibadah sunnah tak kurang, mereka yang tak perlu ditanyakan tentang ibadahnya sebagai seorang muslim pun tak buta politik dan ilmu-ilmu kontemporer. Dan tahun ketiganya, ia dipertemukan-Nya dengan mereka yang berada di organisasi riset kampus, U-READ. Mereka adalah orang-orang hebat yang memengaruhi hidup Ragil dan memberikan banyak hikmah dari masing-masing mereka. Tak akan cukup 6 SKS untuk menceritakan detail tentang keduanya. Perlu waktu khusus tanpa ada gangguan sedikitpun untuk menguraikan pelajaran-pelajaran dan perasaan-perasaan itu.

Sedikit tentang Ragil. Ia menyukai hijau, setiap orang memiliki kecenderungan untuk menyukainya karena hijau menentramkan. Kodok, karena dia imut dan hijau. Bintang, karena ia memiliki sinar yang berasal dari dirinya sendiri. Es Krim, entahlah, sepertinya setiap perempuan menyukainya. Bakso, hem, ada memori tersendiri tentang itu. Menganalisis karakter orang, ada keasyikan tersendiri tentang itu. Mendengarkan cerita orang, karena memang ia tak pandai bercerita dan sebagai salah satu misi untuk menganalisis karakter. Ah ya, ia akan terus mencari tahu sesuatu yang ingin diketahuinya dan jika ia tak mendapatkannya, ia akan segera kecewa, merengut, ngambek, dan orang-orang sejagat raya akan tahu ia sedang “murka”. Dia benar-benar Ragil.

207436_214961111854348_7877668_n

Kacamata minus 3 yang bertenger manis. ingin ia melepasnya, namun apalh, saraf matanya terlalu lemah.

Hingga pada tanggal 4 Desember 2014, Ragil melepaskan status sebagai mahasiswa, menuju pasca kampus yang kebanyakan orang bilang kejam dan mengerikan. Ragil mencatat sebuah hal penting tentang pasca kampus: ”Pasca kampus. Banyak kekhawatiran-kekhawatiran sebelum memasukinya dan kau akan mendapati bahwa kekhawatiran itu hanyalah kekhawatiran tak beralasan. Just do every steps. Sertakan Allah di dalamnya.” Ragil tahu dan yakin, bahwa ridho Allah bersama ridho orang tua. Makarti Jaya adalah tempatnya mengabdikan dirinya untuk negara. Makarti Jaya adalah satu-satunya tempat yang memungkinkan baginya untuk menerapkan ilmu-empat-tahun-nya sekaligus menemani kedua mataharinya di usia senja. Makarti Jaya adalah satu-satunya tempat Ragil diridhoi sang bapak untuk menikmati pasca kampus, hingga mungkin saatnya tiba ia tak lagi berada di daerah kecil itu, jika tertakdir. Lihat? Ragil benar-benar penurut, bukan? Kini di sebuah sekolah menengah, Ragil sedang berusaha menjadi seorang professional di bidangnya. Bergelut setiap hari sebagai seorang yang digugu dan ditiru, yang menuntutnya untuk bersikap sangat dewasa dan berusaha tak bercela, meski tak mungkin bisa. Dan mimpinya, ia sangat ingin melakukan hal sakral itu: berbuat baik dan mengajak orang untuk berbuat baik, di manapun ia.

Ragil menyadari satu hal: Ia hanyalah sebuah cahaya. Bukan sinar. Tak terpikir olehnya untuk menjadi sebuah sinar.

Lalu? Ah, nanggung sekali. Bagaimana akhirnya? Kisahnya belum berakhir. Kapan berakhir? Ketika ia tak lagi di dunia. Em, sekarangapa? Kabar bapak dan ibu ragil saat ini? Ibu mudah-mudahan selalu sehat dan bapak mudah-mudahan segera sehat. Aamiin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s