Yang Tak Banyak Bicara

Manusia tercipta dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Sebagian manusia terlahir dengan kemampuan seni yang membuncah, sebagian lain hanya mampu memecahkan masalah matematis yang teoritis. Sebagian manusia mempunyai kemampuan spontanitas dalam melakukan segala hal, di sisi lain sebagian manusia harus merinci hal-hal tersebut dengan penuh perencanaan. Sebagian manusia ditakdirkan untuk tidak banyak bicara, dan sebagian yang lain memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbicara. Sebagian manusia merasa lebih nyaman menuliskan apa yang dipikirkannya, dan sebagian lain mengatakannya secara langsung untuk mengekspresikan apa yang dipikirkannya. Namun tak jarang, seseorang memiliki dua kemampuan sekaligus. Yap, dalam hal ini setiap dari kita harus mengenali kecenderungan dan potensi diri. Who am I? Dan kemudian yang perlu kita lakukan adalah mengasah setiap kecenderungan itu untuk melejitkan potensi.

Dia yang tak banyak bicara, pada umumnya memilki kemampuan bicara spontan yang kurang rapi, namun jika apa yang dibicarakan telah ia siapkan, hal tersebut tak berlaku lagi. Dia yang tak banyak bicara, lebih suka mendengarkan dibandingkan menceritakan, dan hanya memberikan tanggapan singkat bahkan tak mengeluarkan pendapatnya jika tak diminta dan sekitanya tak dibutuhkan. Hal inilah yang membuatnya tampak sedikit misterius, karena tak banyak orang tahu siapa dan bagaimana dirinya.

Dia yang tak banyak bicara, umumnya nyaman menuliskan segala hal dalam pikirannya. Memiliki bahasa tulisan yang rapi dan selalu memperhatikan ejaan yang benar. Dia yang tak banyak bicara, dapat mengenali sedikit sifat seseorang dari tulisan yang dibacanya. Melankolis, koleris.. Dan tak jarang menjadi puitis. Juga, tentu saja sensitif terhadap tulisan-tulisan seseorang lain yang ia baca, baik kesesuaian kalimat atau ejaan, karena baginya kesalahan-kesalahan dalam penulisan akan berakibat fatal. Tentu saja fatal, karena bahasa tulisan tak memperlihatkan ekspresi dan mimik seseorang, dan dia yag tak banyak bicara hanya mengira dan menebak apa yang sebenarnya dikatakan.  Ya, dia sensitif terhadap tulisan-tulisan itu. Sangat sensitif.

Setiap anak adalah jenius. Tapi jika anda menilai ikan dari kemampannya memanjat pohon, seumur hidup dia akan menganggap dirinya bodoh. (Albert Einstein)

Ada saatnya dalam hidupmu, kau ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia.. (Bung Karno)

Bagaimanapun, dua quotes tersebut berhubungan, meski kau bilang ‘tidak’, aku mengatakan ‘ya’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s