Super Mom (Part 2)

Ini tentang ibuku, yang darahnya menurun padaku.

Tiga bulan terakhir, aku benar-benar mencoba membaca dan memahami. Tentang beliau yang O type dan bapak yang AB type yang oleh Allah dan kehidupan dipersatukan, membina hubungan selama lebih dari 30 tahun dan sampai nanti. Diwarnai dengan berbagai peristiwa penting tidak penting. Penguatan, masalah-masalah kecil hingga krusial, apa yang harus dipendam dan dirasakan seorang diri, apa yang harus dibagi, kapan dan bagaimana mengungkapkan perasaan, bagaimana seharusnya seorang istri bersikap terhadap suami. Aku belajar semua itu dari ibu, yang jalan pikiran kami sama dalam banyak hal. Kami sama dalam tiga hal; melankolis, O type, dan bungsu.

Aku dapat berkaca darinya, tentang O type yang sesungguhnya. O type benar-benar berpikir real, menggunakan sesuatu yang masuk akal dan benar-benar idealis. Bagaimana O membiarkan AB agar “menyentuh tanah” dan “tidak bersikap seperti alien”. Bagaimana beliau menjelaskan dengan hati-hati dan sabar, bahwa ini sebaiknya seperti ini, idealnya seperti itu, tanpa menggunakan nada menggurui, tanpa mendahului AB sebagai kepala rumah tangga. Bagaimana beliau selalu berlapang dada menerima segala keputusan tak masuk akal AB, bagaimana beliau selalu menghilangkan rasa dongkol yang bercokol, bagaimana beliau mengalihkan perhatian saat hal-hal tak masuk akal itu terlontar, bagaimana beliau selalu berkata “ya!” ketika tubuh, hati dan pikiran mengungkapkan yang sebaliknya.

Beliau, bungsu yang sedari kecil tak diperkenalkan dengan makna bungsu. Manja tidak. Beliau mandiri. Sebagai orang Jogja tulen, yang tentu saja pada jamannya masih sangat kolot, beliau selalu diajarkan tentang adab yang sebagian diturunkan kepadaku. Tentang adab berbicara, sebagai seorang perempuan, berteriak adalah sesuatu yang tabu, jadi untuk menyampaikan sesuatu harus beanr-benar tepat berada di depan orang kedua, tanpa berteriak. Tentang adab berjalan, seorang perempuan tidak boleh berjalan dengan dua garis, harus satu garis lurus (lihat para model, dan kau akan paham, apa itu berjalan satu garis lurus). Adab makan, yang tidak boleh ada suara kecapan bibir dan dentingan sendok di piring.

Beliau, mengajarkanku tentang bagaimana bersikap terhadap tetangga. Tidak ambil pusing dalam hal-hal kecil yang mengganggu. Tak sungkan menyapa terlebih dahulu, dan membalas sapaan dengan nada yang easy listening. Hanya satu yang kusayangkan. Beliau bukan pengkader yang baik. Beliau ahli memasak, aku? Memasak dan membuat cake seadanya. Beliau ahli menjahit dan menyulam, aku? Hanya bisa menjahit baju yang sobek dan memasang kancing. Hahaha. Ah andai, andai saja. Ya sudahlah, ikhlaskan saja. Ikhlas adalah kunci kebahagian, kau tahu itu?

Beliau tak suka kebisingan, mencintai suasana tenang. Beliau tak bisa menyanyi. Beliau tak suka melakukan pekerjaan indoor karena itu membuatnya mengantuk. Beliau selalu bergerak. Beliau bisa tidur efektif, hanya sekitar 15 menit, mampu bangun dan melakukan segalanya kembali. Kaki kiri beliau lebih lemah dari kaki kanan. Beliau tak mau lagi menggunakan motor karena kejadian ban pecah lebih dari sepluh tahun berlalu. Beliau selalu menggunakan sepeda ke manapun.

Bagaimana pun, beliau menginspirasi dan membuatku banyak belajar. Belajar tangguh. Belajar menerima. Belajar tentang hati yang luas. Belajar menutupi apa yang harus ditutupi dan mengeluarkan apa yang seharusnya dikeluarkan. Pada siapa, unruk siapa.belajar selalu bermuka manis dan positif. Hingga terlihat awet muda. Belajar professional. Belajar berjuang. Belajar hidup dan menghidupkan.

Super mom, super woman. Love you to the moon and back.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s