Lovely-Stubborn Bapak

Beliau, sosok yang dalam mengungkapkan rasa sayangnya dengan tanpa kata, dengan sikap diamnya. Dengan mengelus kepala, atau mencium kening, atau mengusap kepala dengan penuh rasa dan makna ataupun hanya dengan senyum dengan arti menyeluruh saat sesuatu dari kita membuatnya bangga, sekecil apapun itu seperti kemandirian yang kita tunjukkan.
Bapak.
Dengan keras kepalanya yang menurun padaku, hingga tak bisa dalam sekejap menjadi Satria Baja Hitam ataupun seorang ranger. Beliau yang tak dapat dikalahkan dalam diskusi atau debat kecil. Beliau dengan sikap ngeyelnya yang seringkali membuat dongkol dan hati tak sehat saat mendengarnya, sehingga banyak kerabat dan teman beliau menyebutkan bahwa “kalau ndak ngeyel, berarti itu bukan pak Parman”. Beliau yang memnyukai tidur. Beliau dengan sikap perfeksionis dalam hal masakan ibu, tapi sebenarnya beliau selalu memuji masakan ibu saat tak berhadapan dengannya. Rasa sayang yang sengaja tak ditampakkan. Beliau yang terkadang tak sinkron antara apa yang beliau sampaikan dengan apa yang beliau sendiri kerjakan. Beliau yang selalu menolak untuk berjalan kaki dan berakibat kurang baik bagi kesehatan beliau. Beliau dengan jiwa muda dalam raga yang tak lagi muda, menyukai keroncong dan Wali band, yang kadang saat beliau menanyikannya membuatku meringis bengis, tak setuju tak suka.
Beliau yang saat muda keren dan ganteng istimewa dengan rambut ikal dan tahi lalat di dagu sisi kanan, dengan kumis tebalnya. Beliau yang selalu dihormati dan dikenal banyak orang. Beliau dengan banyak kerabat yang meminta nasihat dan dukungan dalam segala hal. Beliau yan senantiasa selalu ingin membantu orang lain meski pun dalam keadaan berat. Baliau yang rindu namun selalu menutupinya dengan hal lain yang tak penting. Terlalu istimewa untuk diungkapkan dan dideskripsikan.
Meski tak pernah menampakkan rasa sayangnya, beliau adalah beliau yang selalu rindu anak-anak perempuannya yang telah bersama imam pilihan mereka, kecuali Si Bungsu tentunya. Beliau yang selalu dapat mendapatkan hati cucu-cucunya. Beliau dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Dan…
Aku sayang Bapak, yang juga tak terucapkan dan tak terungkapkan. (Lihat pak? Aku benar-benar mewarisi sifatmu yang satu ini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s